You are currently browsing the tag archive for the ‘Teknik’ tag.


grass_by_jorlin1Selamat pagi kampus. Pagi yang gerah walaupun sang fajar masih malu-malu muncul di antara awan yang berarak. Mentari pagi itu membiaskan harapan dengan cahayanya yang lembut. Tapi sering kali ia bohong, janji awal kehidupan yang baik itu, biasanya ingkar ketika siang tiba. Kelembutan sang fajar kadang-kadang berganti menjadi garang dan membakar atau ia malah lenyap dan mempersembahkan hujan lebat. Read the rest of this entry »


Sudah bukan rahasia lagi, klo ngurus transkrip nilai di Jurusan Arsitektur itu lamanya minta ampun…
Dua minggu lalu saya sudah menyerahkan selembar kertas yang berisikan nama dan nomor stambuk, sebuah persyaratan yang diajukan ketika kita ingin meminta transkrip nilai. Seminggu kemudian saya datang ke kampus, transkrip itu belum juga selesai. alasanya, kertas tersebut hilang. Ye… kok tidak di simpan baek2 seh??? Read the rest of this entry »


Kemarin, 29 April 2008, kembali saya menginjakkan kaki di gedung POMD. Semuanya sama seperti dulu, jumlah tangganya tetap sama dan tata ruangnya pun tetap sama, cahaya di koridor masih saja kurang, masih menyisakan kesam kusam bahkan menyeranmkan. Pengurus SMFT-UH dan BPM baru saja terpilih. Read the rest of this entry »


Siang itu, saya terduduk di Plazgoz, beberapa saat kemudian mahasiswa baru berseragam hitam putih berarak melintas di depan saya.
“Kenapa mesti pake seragam hitam putih?” Beberapa mahasiswa baru kerap mengajukan pertanyaan ini ketika berhadapan dengan sang senior. Pun saya pada saat berada di posisi mereka dulu, menanyakan hal yang serupa kepada sang senior.

Sang senior lalu menyampaikan beberapa argumen atas diberlakukannya seragam tersebut.
Pertama, agar dosen dan mahasiswa dapat mengenal para penghuni-penghuni baru kampus ini.
Kedua, agar diketahui bahwa mereka adalah mahasiswa yang kuliah di fakultas Teknik.
Ketiga, agar tak ada perbedaan antara satu mahasiswa dan mahasiswa lainnya. Tak ada jarak antara kaya dan miskin. Tak ada perpisahan antara oda (orang daerah) dan mereka yang mengaku orang kota.
Serta berbagai alasan lainnya.

Tren pakaian seragam digalakkan sekitar tahun 70-80-an, di masa orde baru. Pegawai negeri diwajibkan memakai seragam biru Kopri. Ibu-ibu Dharma Wanita memakai setelan pink-peach. Bocah yang duduk di bangku Sekolah Dasar menggenakan pakaian putih merah. Anak baru gede yang bersekolah di Sekolah Menengah Pertama diwajibkan memakai seragam putih biru. Para remaja di Sekolah Menengah Atas diseragamkan dengan putih abu-abu.

Seragam tersebut merupakan dampak politik orde baru  yang di lakukan sebagai pengontrolan masyarakat Indonesia oleh negara. Ketika itu, identitas individu ditiadakan dan digantikan dengan identitas kolektif.

Bentuk penyeragaman ini berimplikasi pada keterbatasan seseorang untuk berekspresi sebagai seorang individu. Segala hal telah terpaktron secara kolektif menurut kelompoknya. Individu satu dan individu lainnya tak dapat dibedakan dan wajib mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Semua harus sama, semuanya mesti seragam.

Tetapi bukankah tiap individu berbeda???

Identitas kolektif yang masih mewarnai perjalanan hidup bangsa ini membuat seorang individu terbatas mengungkapkan siapa dirinya. Mereka tak bisa menjadi dirinya apa adanya. Mereka tak bisa menyampaikan bahwa betapa uniknya mereka. Semua telah dibatasi dengan identitas kolektif yang membuat mereka terkucilkan jika berbeda.

Hal ini pulalah yang membuat mental orang Indonesia kerap mengatakan, “Itu saja”, “Saya terserah yang lain”, dan ungkapan lain yang bermaksud menyampaikan bahwa “daripada salah, lebih baik ikuti yang banyak”. Tidak ada ketetapan pendapat, minim keteguhan pendirian. Tak sedikit yang takut menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Barisan hitam putih itu kini berakhir melintas di depan saya. Ini adalah fakultas teknik yang identik dengan rekayasa dan membutuhkan kreativitas dan inovasi dari setiap individunya. Semoga seragam yang dikenakan mereka hari ini tidak menyeragamkan ide dan gagasan mereka, harapku dalam hati.
Karena perbedaan, bangsa kita menjadi kaya. Karena perbedaan, fakultas ini menjadi besar.

“Bukankah kita bisa memberi jalan, tuk satukan semua harapan?”


Hampir dua minggu, kamarin, aku menjadi tim screening dengan beberapa tim screening.
Tahun lalu aku yang duduk disana, di tempat duduk yang terpasang lilin remang-remang. Kadang aku kebingungan sendiri, kadang aku merasa sangat bodoh, kadang aku tertawa sendiri, kadang aku sangat bahagia, dan perasaan lain. Berjuuta rasa berkecamuk menjadi satu di kala itu.
Dan akhirnya aku menjadi calon dengan berbagai masalah dan konflik yang mewarnai. Sempat aku publiskan masa itu disini dan ucapan terima kasih tak hentinya ingin kuucapkan kepada mereka yang kerap memberiku semangat di kala itu.

Screening kini telah berakhir, dan aku seakan kehilangan sesuatu. Aku menyukai kehidupan malam di kala screening, aku menyukai diskusi saat screening, mencari esensi, mencari subtansi. aku menyukai tawa lepasku di kala itu, tanpa beban, tanpa ketakutan, tanpa kecemasan, tanpa gundah gulana. aku seakan menjadi Inar seutuhnya.
Kapankah keadaan itu kembali? I miss……


Tanya kenapa, polisi akhir2 ini tdk bisa mengontrol emosi? Bunuh komandan, bunuh mertua, bunuh anak, bunuh diri….

Tanya kenapa, Anggota dpr terlalu banyak tuntutan. Minta gaji naik, minta tunjangan naik, minta laptop gratis….

Tanya kenapa, KMT yang harus “bermohon-mohon” untuk dapat ketua lembaga….?????

Satu ji mo ku bilang, Perbaiki Niatmu Sayaaannngggg…..!


Pagi tadi, teman2 kelasku di PWK berangkat menuju Singapore.
Akhir2 ini, agak risih juga dengan serangan pertanyaan antek selain pwk
“Nar oleh2 na…”
“oleh2 apa?”
“ole2 dari Singapore”
“da ikut ka!”
“knp da ikut?”
“da ji…”
Sebenarnya kata “da ji…” ini mengandung banyak alasan kenapa saya da pigi, cuma malas aja bicara banyak… beberapa alasanya…
1.  Gila lo, dmn ka mo dapat uang 4,6 juta untuk keluar negeri???
2.  Namanya ji memang KKL, tp itu bahasa halus ji, kasarnya rekreasi. Bagi saya rekreasi (keluar negeri lagi) masih takaran kebutuhan tersiernya tersier, masih banyak kebutuhan primer yang mesti saya penuhi.
3.  Minjam uang untuk kesana? aduh gimana ya… ga enak aja, masalahnya apa yang bisa saya berikan sepulang dari sana blm jelas…
4.  Tidak ada di program mata kuliah, its mean da wajib ji to…
5.  Insya 4JJI klo ada rejeki, ke sana ja itu, tapi bukan rekreasi berkedok pendidikan tapi memang untuk pendidikan…
6.  Mendingan pigi mendaki, 4 juta itu sudah bisa memenuhi biaya akomodasi banyak gunung. Disana bisa dapat inspirasi, belajar banyak tentang kehidupan.
Hmmm…. well met jalan2 teman2. Saya da harap ji oleh2, coz saya ngerti da sedikit pengorbananmu untuk kesana. Saya harap ko da lupaja sepulangmu dari sana…
Avif, Ture… kita kemana ini cez??? Masa 1 minggu ta`loko da kuliah…


“Ini bukan masalah mau atau tidak mau, ini masalah hidayah!” barisan kata itu dikeluarkan oleh Agus Salim, ketua BPM FT-UH periode 2006-2007, dengan mimik serius pada diskusi 4 mata lebih tepatnya ceramah singkatnya (111206).

Aku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, sesekali aku tersenyum sebagai bentuk penghargaan. Aku mendengar, aku menyimak, aku mengerti bahkan aku sangat paham dengan apa yang disampaikannya, tapi………..

Aktif dalam organisasi kemahasiswaan kini bagiku hanya nostalgia masa lalu. Intensitasku ke gedung POMD, pusat kegiatan mahasiswa teknik, hanya sekali seminggu, untuk rapat dewan (itupun kalau aku ingat) meskipun terkadang naruniku berontak!

Atmosfer gedung ini sudah berubah, entah sejak kapan! Terus terang aku tidak menyukai kalimat sambutan kedatanganku, “siapa ki?”; “cari siapaq?”; “eh, anak apa ini?”. Bila hanya sekali dua kali mungkin aku memaklumi ini hanya sebuah joke semata tapi… bila berulang kali…

Aaah.. sudah! Cukup! Ini bukan masalah mau atau tidak mau, bukan pula masalah hidayah… tapi kalianlah yang meninggalkanku di persimpangan jalan, dan menutup jalan itu untukku, kemudian aku melangkah di jalur lain dengan kuyuh… berharap di ujung jalan nanti kita kan bertemu kembali…..


Terima kasih telah meyempatkan diri menarikan mata Anda pada tulisan yang tak berharga ini. “Mungkin..” saya tak mampu bersilat huruf dan kata-kata yang tak biasa, “mungkin” saya orang yang tak pandai menulis, “mungkin” tulisan ini tak pantas untuk dibaca, ataukah “mungkin” saya adalah penakut yang tak mau berdebat whateverlah… I just wanna lay up my opinion in here…

Bubarkan OKFT-UH”, sejenak aku tersentak membaca kalimat itu, kutelusuri kata demi kata mengobati rasa penasaran yang tengah menggerogoti. *sling…* imajinasiku melayang…, kuanalogikan lembaga sebagai kekasih yang kadang-kadang kucuekin namun dia tetap setia padaku dan kemudian… ia menghilang atau lebih parah lagi meninggal… Sedih…, kehilangan…, mungkin saja itu yang kurasakan saat dia tak disampingku lagi… (sometime sesuatu akan terasa berharga saat kita kehilangannya, isn`t it???)

Mungkinkah kehilangan lembaga akan seperti itu??? Kita baru tau bahwa dia begitu berharga setelah lembaga di bubarkan??? After that, kita akhirnya kembali memupuk niat dan semangat hingga KOFTE tidak hanya menjadi suatu kalimat yang hampa… Ah… entahlah… pertanyaan ini hanya tersimpan, sampai OKFT benar-banar dibubarkan. Andai saja waktu bisa terulang kembali atau beri kesempatan sekali lagi (lagu apa bede…?)

Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar dan apa yang kita rasakan sekarang tak seperti dulu lagi… (senior kadang-kadang berbicara seperti ini). Tapi apakah perbedaan itu terjadi karena orang yang berbeda atau zaman yang memang dinamis hingga sistempun harus bergeser?

Mengapa seniorku jauh lebih hebat? Mengapa mereka dapat berpikir sekaligus dapat bekerja? Mengapa nama mereka menggaung begitu besar? Tapi kami (baca : junior) hanya mampu terpukau tanpa bisa memukau, hanya mampu mangamat tanpa bisa berbuat, hanya mampu manatap namun enggan melangkah dengan mantap dan akhirnya terpenjara dalam sejarah…

Guru yang hebat adalah guru yang bisa menghasilkan murid yang lebih hebat, kalimat ini tentu tak asing lagi. *buzz…* kemudian aku tersadar (mungkin) seniorku tak sehebat yang kupikirkan. Buktinya, mereka tak mampu menghasilkan murid-murid yang lebih hebat daripada dirinya… mungkinkah (maaf) seniorku terlalu egois? Atau (maaf) juniornya terlalu ongol…?

Dalam ilmu pocong, seseorang yang punya ilmu tak boleh mati apabila ia belum mawariskan keahliannya tetapi apakah metode seperti itu juga berlaku di lembaga ini? –tanya ma`…-

Semuanya hanya menjadi pertanyaanku…! Thx buat –ababil- atas tulisannya dan 9 kata “mungkin” yang menjadi inspirasiku…


Today, sapa seh yg da knl zul, begitulah ia akrab disapa. Beberapa tmn mmanggilx gokong dan ada seorang senior mmanggilx nobita karena kacamatax. Sejak menjadi maba dia telah aktif dalam kehidupan kelembagaan. Ia eksis sebagai panitia inagurasi hingga panitia KMT. Menjadi panitia raker senatpun di embanx dengan penuh tanggung jawab. Keaktifannya di Senat tidak melupakan dia akan hakekatx sebagai anggota OKJA. Segala kegiatan di jurusan tak pernah luput dari kinerjax meski ia juga harus menumpahkan tenaga di kegiatan fakultas. Dia termasuk orang setia menemaniku menjalani proses kepanitian muktamar yang panjang dan banyak ditinggalkan teman2 yg lain. Ia juga pernah mengemban jabatan sebagai ketua RMK yang saat itu aku sebagai koor acara. Dan kegiatan lainya, Yah.. cukup banyak kepanitiaan yang melibatkanku dengannya. Sebagai seorang panitia, aku melihat zul sebagai orang yang penuh tangggung jawab, perfeksionis, ulet dan agak sulit mempercayakan suatu pekerjaan kepada orang lain kecuali dia betul2 telah mempercayai orang tersebut. Selain itu, dia sangat kreatif dan punya aspresiasi besar terhadap seni. Keaktifan itu tidak justru membuat akademikx hancur. Ia tergolong cerdas dan berjiwa besar serta realistis. Dia memiliki aura misterius, berwibawa dan kadang2 sangat bijaksana. Mungkin hal itulah yang membuat beberapa wanita mengakui ketertarikannya dengan sosok yang satu ini. Adorable man! Kadang2 dia harus berbohong atau menyembunyikan sesuatu untuk suatu misi tertentu, ha3x ingat saat itu *ceritanya di sensor* jadi be careful jangan terlalu cepat percaya dengan muka culunnya itu bcoz kadang2 dia licik juga! Terpilihnya ia sebagai ketua himpunan mahasiswa arsitektur priode 06-07 membuktikan keseriusannya dalam memperbaiki OKJA. Ia berhasil melewati kerasnya kehidupan politik dan siap memasuki dunia yang penuh kebingunan, sayangnya ze tak dapat berjuang bersamanya lagi, menyalurkan ide bersamanya dan menikmati semangat yang timbul tenggelam karena ze tdk masuk dalam kepengurusan himpunan dan harus menjalankan tugas “rapat” sebagai anggota dewan. Hari ini ia mengadakan syukuran atas terpilihnya ia sebagai ketua HMA FT-UH sekaligus merayakan ulang tahunnya yang ke 20. sayangnya ze tidak dapat hadir dalam acara tsb karena sakit. But, melalui media ini, I wanna say Happy B`day to u bro…! u are a good friend I ever had…! ….

June 2022
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Instagram @winarniks

No Instagram images were found.

Community

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Top Clicks

  • None

Blog Stats

  • 240,842 hits