You are currently browsing the tag archive for the ‘gunung’ tag.


Renungan

 


Pemandangan dari Bulu Kapire

padang rumput di puncak kapire

 


Puncak Bawakaraeng

Masih terang di ingatan kita, ketika Adiatma Achmad menghabiskan nafas terakhirnya di sebuah gunung yang cukup mistik di Sulawesi Selatan, Gunung Bawakaraeng. Mahasiswa UMI yang berasal dari Barru tersebut meninggal karena tidak sanggup melawan kedinginan di pos 8.

Belum genap tiga bulan berita itu menjadi perbincangan, kembali kita di gegerkan dengan berita meninggalnya 3 orang masyarakat di Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto dan Sinjai tersebut. Read the rest of this entry »


Tak jarang aku dapati pertanyaan dan pernyataan yang terdengar amat sinis melihat aku senang menyapa alam dengan menapakkan jejak untuk mencapai puncak. Tetapi aku tak begitu peduli, aku tetap menyapanya, lagi dan lagi.

Read the rest of this entry »


Aku terkekang pada ketidakmampuanku. Jiwaku dikebiri oleh cita-cita dan pemikiranku sendiri. Aku dikecewakan oleh mimpi-mimpi dan obsesiku. Kebosanan dan kemirisan, kian lama menggoncangkanku. Aku terjatuh lagi. Aku kehilangan jiwa yang pernah menginspirasi orang lain. Langkah yang dulu mengangumkan, kini gontai.

Read the rest of this entry »


Panorama alam yang indah dan disebut sebagai atap pulau Sulawesi menjadikan Gunung Latimojong banyak dilirik para pendaki di Indonesia.

Pegunungan Latimojong terdiri dari beberapa puncak dan dapat di daki melalui beberapa jalur karena letaknya di tengah-tengah Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Luwu.

Adapun puncak-puncak Pegunungan Latimojong yang membujur dari utara ke selatan yakni:

  1. Buntu Sinaji (2437)
  2. Buntu Lapande (2487)
  3. Buntu Sikolong (2754)
  4. Buntu Rantekambola (3083)
  5. Buntu Rantemario (3478)
  6. Buntu Nenemori (3397)
  7. Buntu Latimojong (3305)
  8. Buntu PasaBombo (2965)
  9. Buntu Pallu (3086)
  10. Buntu Lariu (2700)

Sedangkan puncak yang melintang dari barat ke timur yakni:

  1. Buntu Pantealoan (2500)
  2. Buntu Pokapinjang (2870)
  3. Buntu Rantemario (2478)

Jalur

Banyak jalur yang dapat dilalui untuk mencapai Puncak Rantemario (3478), diantaranya:

  1. Jalur yang paling sering di lalui ialah jalur Karangan yaitu jalur yang di mulai dari Dusun Karangan, Desa Latimojong. Jalur ini adalah jalur yang membutuhkan waktu yang paling singkat di bandingkan jalur lainnya. Meskipun waktu terbilang singkat namun medannya cukup sulit karena terus menanjak. Letaknya di tengah hutan maka pemandangan di jalur ini di dominasi pohon-pohon tinggi.
  2. Jalur kedua melalui dusun Bone-bone menuju Buntu Pantealoan kemudian melalui jalur dengan berbagai jenis medan. Jalur ini dapat ditempuh dalam waktu 3 hari.
  3. Jalur ketiga menempuh Jalur Angin-angin yang di mulai dari Dusun Angin-angin yang masih dalam wilayah administrasi Desa Latimojong. Jalur ini dapat di tempuh dalam tiga hari. Pesona alam yang beragam menjadikan jalur ini diminati meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.

Transportasi

Untuk tiba di Dusun terakhir, perjalanan di tempuh dari Kota Makassar sejauh 200 km menuju ibu kota Kabupaten Enrekang. Dari sini, perjalanan di lanjutkan sejauh 30 km menuju ibukota Kecamatan Baraka. Biaya transportasi hingga tiba di tempat ini adalah 45 ribu rupiah.

Perjalanan selanjutnya dapat ditempuh dengan menumpangi sejenis mobil mikrolet hingga Desa Buntu Dea lalu berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam menuju Dusun Angin-angin ataupun Dusun Karangan. Alternatif kendaraan truk juga dapat digunakan dan akan mengantarkan kita dari ibukota Kecamatan Baraka menuju Dusun Rantelemo  dengan biaya sebesar 20 ribu rupiah. Namun kedua angkutan ini hanya ada pada hari pasar, Senin dan Kamis.

Angkutan lain adalah ojek, tentu dengan ongkos yang jauh lebih mahal.


“Sudah baca koran hari ini?” Tanya Etta sepulangnya dari kantor.
Seketika aku berbalik ke arah sumber suara, setelah yakin Etta sedang berbicara padaku, aku pun menjawab, “Berita apa?”
“Ada lagi orang meninggal di Gunung Bawakaraeng.”
“Oh…” jawabku seadanya. “Dari kemarin ji ku dengar beritanya, kalau ada yang sakit di pos 8.” Dengan pandangan masih tertuju ke monitor komputer.
“Tau darimana?”
“Dari informanku di Lembanna.”
Berita meninggalnya Adiatma Achmad di posko 8 Gunung Bawakaraeng membuat orang-orang kembali geger. Adi, seorang mahasiswa Teknik Sipil, Universitas Muslim Indonesia angkatan 2006 meninggal dalam perjalanannya, Lintas Gunung Lompobattang – Bawakaraeng. Cuaca yang tidak bersahabat membuat Adi dan 4 rekannya harus menyerah dengan kekuatan alam. Di posko 8 Gunung Bawakaraeng, Adi pun meninggal dan 4 lainnya kritis.
Nasib naas yang menimpa anggota Mapala itu, makin meyakinkan argumen-argumen orang di rumah untuk kontra dengan aktivitas yang ku lakukan beberapa tahun terakhir ini.
“Kau mau nasibmu berakhir seperti itu?” Tanya mereka.
“Kalau memang ajalku meninggal di atas gunung, mau di apa. Kalau ajalku meninggal di tabrak, mau bagaimana? Kalau ajalku di tikam orang, terus kenapa?”
Jawabku, lalu segera berlalu dari mereka yang tidak pernah mengerti dengan aktivitasku ini.
Setiap orang bisa meninggal kapan saja dan dimana saja. Jadi bukan alasan yang tepat untuk menjadikan kematian di atas gunung agar melarang kami kembali bersua dengan alam….


Di puncak dataran

Letup asa menjelma eforia

Lengah berganti semangat

Lelah menelusup ke dalam rengkuhan padang ilalang

Engahan napas terdengar bagaikan kidung merdu

Disana…

Langit terasa begitu dekat

Tempatku menyambut harapan

Disana…

Sang bayu menyusup lembut

Membelaiku dengan kedamaian

Disana…

Bebukitan membelah endapan kabut

Keras dan lembut berpadu

Disana…

Warna warni menghiasi

Berbisik masih ada yang lebih indah

Puncak tinggi, puncak mimpi

Ketika uang bukan lagi satu-satunya harapan

Ketika kekuatan fisik tak selamanya bisa diandalkan

Ketika alam yang akan mengatur semuanya

Aku merindukannya

Aku merindukannya

Aku merindukannya



Puncak Gandang Dewata
5 September 2007

Berkelana dan berpetualang di alam bebas dalam paradigma masyarakat saat ini, masih milik para kaum adam. Hampir di semua organisasi pencinta alam pasti di dominasi oleh manusia berjakun ini. Hal ini jelas, karena kegiatan ini identik dengan ketangkasan, kemandirian dan keperkasaan. Kehadiran perempuan di organisasi tersebut karenya sangat minim. Tentu hanya sedikit perempuan yang mau kotor-kotoran, tentu hanya sedikit perempuan yang mau melakukan hal sulit ini, tentu tak banyak perempuan yang mau mengorbankan waktunya untuk hal yang tidak penting ini. Read the rest of this entry »


Tulisan di bawah ini menampilkan beberapa data-data untuk melakukan pendakian ke Gunung Gandang Dewata di Mamasa, Sulawesi Barat.

Read the rest of this entry »

January 2022
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Instagram @winarniks

No Instagram images were found.

Community

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Top Clicks

  • None

Blog Stats

  • 240,797 hits