You are currently browsing the category archive for the ‘Writing’ category.


Untitled-1

 


Internet bagi saya adalah dunia maya yang hidup, dunia maya yang begitu nyata. Bumi yang besar ini menjadi begitu kecil di internet. Ungkapan, “semuanya ada di internet” pun seolah di amin-i banyak orang. Namun teori itu sering kali terpatahkan saat browsing dan saya tidak menemukan sesuatu yang betul-betul saya cari. Berangkat dari hal tersebutlah saya terdorong untuk membuat blog. Selain sebagai media aktualisasi diri, melalui blog pulalah saya berharap bisa melengkapi apa yang belum ada di internet.

Sejak kecil saya sulit mengungkapkan sesuatu melalui suara dan ini mengawali saya untuk mengungkapkannya lewat tulisan. Meskipun kemampuan menulis saya, hingga saat ini, bisa di bilang jauh dari standar suatu tulisan yang baik. Tetapi motivasi berupa kalimat, “kalau mau belajar menulis, menulislah!” seolah menjadi pintu lebar bagi saya untuk tetap menulis. Mulai dari merobek pertengahan buku lalu menulis sesuatu di atasnya seperti zaman sd dan smp dulu hingga sekarang menulis dengan menggunakan media blog. Setidaknya melalui tulisan tersebut saya bisa memudahkan orang yang kesusahan, memberi tahu orang-orang yang belum tahu, mengingatkan bagi yang lupa, dan menyadarkan orang yang tidak sadar

Namun, mempublikasikan suatu tulisan di internet bukanlah suatu perkara yang mudah seperti menulis di kertas pertengahan buku. Menulis di internet sama dengan membiarkan orang lain bebas membaca dan menjadikannya sebagai suatu referensi. Setiap orang bisa menyampaikan kabar paling segar dan mutakhir lewat situs pribadinya tersebut

Hingga pada suatu hari di bulan agustus 2006 saya menyempatkan diri membaca rubrik tamu di bz!, majalah online yang dikelola www.blogfam.com. Disinilah akhirnya saya menemukan http://www.panyingkul.com. Dengan konsep jurnalisme orang biasa, web ini mampu membangkitkan rasa percaya diri saya untuk mendaftar sebagai citizen reporter. Tentu saja hal ini tidak jauh dari visi saya sebelumnya, melengkapi apa yang belum ada di internet.

Menilai diri sendiri dengan indikator yang tidak jelas membuat saya terpenjara akan penilaian sendiri tentang apa yang disebut dengan tulisan yang berkualitas. Hal ini yang membuat saya meluruskan tekad untuk bergabung dengan beberapa komunitas penulisan. Meskipun menjadi “anak bawang” saya tetap bertahan dengan komunitas-komunitas tersebut. Prinsip saya sederhana saja, lebih baik bodoh diantara orang yang pintar daripada pintar diantara orang bodoh, lebih baik malas diantara orang rajin daripada rajin diantara orang malas. Dari komunitas tersebutlah saya memahami bahwa tulisan yang kita publikasikan melalui media internet juga butuh akurasi, ada etika serta kaidah jurnalistik yang harus kita pahami, sehingga kredibilitas kita sebagai seorang blogger tidak perlu dipertanyakan lagi karena apa yang kita informasikan bisa dipertanggungjawabkan.

Suatu hari saya juga ingin berkompetisi dengan mereka, namun bagaimana saya bisa berkompetisi bila tak punya kompetensi? Hal inilah yang membuat saya tertarik membuat tulisan ini, berkompetisi dan membuka peluang menggali potensi. Potensi yang bisa membuat “anak bawang” seperti saya melengkapi ruang kosong internet dengan tulisan yang bertanggungjawab sehingga saya bisa memudahkan, memberi tahu, mengingatkan bahkan menyadarkan orang lain.

Di awal tahun ini saya berharap menjadi awal lahirnya tulisan-tulisan baru yang lebih berkualitas di halaman blog ini. Amien


Tulisan di bawah yang berjudul Budaya Literer di Kampus merupakan Modal Perubahan sebenarnya ingin saya ikut sertakan dalam lomba essay yang di adakan PK. Identitas.

Entahlah sejak dahulu, saya tidak pernah punya keberanian untuk mengirimkan karya tulis saya ke sebuah media massa. Sebuah tulisan yang saya hasilkan, saya nikmati sendiri, untuk dibaca sendiri.

Lalu untuk apa menulis jika tulisan tersebut tidak dibaca orang lain? Kadang ada beberapa orang bertanya seperti itu. Bukannya saya tak ingin orang lain membacanya, saya malah bersyukur jika ada yang ingin membacanya tetapi saya selalu kurang percaya diri untuk mengirimkan tulisan saya ke media. Saya minder dengan tulisan-tulisan menarik yang kerap di muat disana. Pun saya tidak ingin terjebak dengan kebiasaan penulis yang hanya bersaing berebut eksistensi semata. Saya ingin menulis dengan hati nurani untuk menyampaikan idealisme dan komitmen sosial saya.

Agar tulisan saya bisa dibaca orang lain, saya membutuhkan sebuah media independen untuk memuat tulisan-tulisan saya. Saya tak lagi perlu khawatir dengan tulisan akan ditolak oleh editor karena penulis dan editornya adalah saya. Yah… disini, di blog ini, saya bisa menuangkan segala gagasan saya tanpa pernah malu.

Setelah melihat pamflet di kampus mengenai lomba essay yang diadakan PK. Identitas saya pun mulai memberanikan diri. Apa salahnya untuk mencoba? Itu yang saya katakan kepada diri saya. Saya pun terhanyut menyelami tulisan yang mengangkat tema budaya literer. Sayang, ketika deadline (17/11) saya di sibukkan pada beberapa kegiatan yang tidak memungkin saya untuk ke kampus mengikutsertakan tulisan tersebut. Akhirnya tulisan ini pun di muat di blog ini.

Disinilah manfaat sebuah blog, bahwa budaya literer tak hanya dimulai dengan media mainstream tetapi dapat di mulai dengan media independen seperti blog. Dengan blogwalking dari satu blog ke blog yang lain, kita akan menemukan banyak makna kehidupan yang bisa menjadi bahan bagi postingan blog kita seterusnya.

Blog tidak hanya membahas satu bahan permasalahan saja tetapi mengangkat banyak tema karena berasal dari pemikiran dari orang-orang yang berbeda. Rajin membaca blog dengan tulisan-tulisan bermutu mampu membuat kita membuka mata lebih lebar dalam melihat berbagai masalah kehidupan.

Nah, kini mari membuat blog untuk membangun budaya literer di kota ini.


Beberapa masyarakat yang tidak menyetujui revitalisasi karebosi turun ke jalan ketika proyek revitalisasi itu telah di laksanakan. Meski sosialisasi mengenai revitalisasi terus digemakan di beberapa koran lokal jauh sebelum alun-alun kota Makassar itu dipagari, tetapi masyarakat baru bangun dari tidurnya setelah proyek itu mulai dilaksanakan. Lucunya, mahasiswa dan civitas akademika, seluruh perguruan tinggi di Makassar juga baru �tergelitik� mendiskusikan tentang proyek milyaran rupiah ini setelah aksi turun ke jalan tersebut. Elemen-elemen mahasiswa baru turun gunung menyampaikan aspirasinya. Mailing list yang didominasi dosen-dosen baru ribut-ribut bertanya-tanya dengan design yang akan dilaksanakan. Info yang beredar simpang siur karena dari mulut ke mulut. Bahkan tak sedikit kalangan akademisi ini bertanya kepada sang perencana dengan kata awal �katanya�.

Pemilihan Kepala Daerah Sulawesi Selatan baru saja digelar, dimana pesta tersebut dimenangkan oleh salah satu kandidat dengan perolehan tipis dari kandidat lainnya. Hal ini membuat pendukung kandidat yang kalah turun ke jalan, bahkan sejumlah massa memecahkan kaca jendela kantor panwaslu. Salah seorang yang diamankan polisi dalam insiden pengrusakan tersebut mengaku sebagai mahasiswa perguruan tinggi swasta di kota ini. Berita dari mulut ke mulut bahwa sang pemenang melakukan kecurangan membuat mereka �panas�. Tak ada yang menyadari ataukah pura-pura tak peduli kalau mereka pernah berkomitmen untuk siap menang, siap kalah dan siap damai.

Peristiwa di atas adalah dua peristiwa diantara peristiwa lain yang menunjukkan bahwa masyarakat di kota ini masih di dominasi dengan budaya lisan. Mereka mengandalkan kesadarannya diisi radio, televisi, mengobrol, gosip, sms dan gurauan-gurauan. Ruang cakrawala mereka terbatas, hanya mengenal dimensi ruang dan waktu sesaat. Perspektif pandangan yang pendek tersebut membuat emosi mendominasi pikiran rasionalnya hingga akhirnya perbuatan anarkis pun terjadi. Ironisnya, perguruan tinggi yang konon merupakan agen perubahan dan agen kontrol sosial pun mengantungkan diri pada kesadaran kolekif, bukan solidaritas umum yang universal.

Perguruan tinggi memperoleh kehormatan dan kepercayaan berupa hak istimewa memberi gelar sarjana, megister, dan doktor. Implikasinya, perguruan tinggi harus mampu mempertahankan posisinya yang bebas, objektif dan kritis. Namun kenyataannya, sebuah perguruan tinggi malah terasing dengan dunia sekitarnya, kehilangan relevansi, kepekaan serta daya kritis sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial. Kampus-kampus semakin kurang gizi hingga berpikir pragmatis dan jangka pendek.

Dosen-dosen hanya mengandalkan diktat yang tak pernah berubah sejak zaman beheula. Materi yang di ajarkan berkutat pada itu-itu saja. Materi pengajaran stagnan. Sang dosen kemudian membela diri, harapan mereka, sang mahasiswa yang sudah dewasa itu seharusnya mampu mencari nutrisi sendiri.

Lihatlah, sudah menjadi pemandangan yang umum, mahasiswa menyelipkan selembar buku catatan di saku belakang celananya. Seorang mahasiswa yang duduk tertunduk membaca sebuah buku atau seorang mahasiswa yang berdiri sambil membaca sebuah artikel-artikel di majalah dinding malah menjadi pemandangan yang sulit di dapatkan. Banyak komunitas mahasiswa yang duduk bersama bercerita, beradu mulut tetapi setelah itu tidak ada simpulan yang jelas. Hanya ada dalam ingatan mereka bahwa pernah terjadi diskusi di tempat ini.

Banyak diantara mahasiswa yang alergi terhadap buku tebal, bagaimana mau membacanya jika menyentuhnya saja sudah enggan. Hal ini semakin parah karena paradigma dosen yang selalu menganggap bahwa mereka telah dewasa tanpa mencoba menanamkan kesadaran untuk mereka.

Sarana dan prasarana untuk mendukung budaya literer di kampus sebenarnya sudah tersedia. Perpustakaan telah tersedia dengan berbagai judul di dalamnya tetapi mengapa tak banyak yang betah di sana? Mungkin suasana yang kurang nyaman ataukah judul-judul buku yang disediakan tidak lagi memenuhi minat mereka. Jangan heran kalau mereka lebih senang duduk bergosip atau bermain domino.

Sarana internet pun disediakan. Hampir di seluruh sudut kampus, siapa saja bisa mengakses internet. Sayang sarana dan prasarana ini hanya di manfaatkan untuk membuka friendster dan chatting belaka. Jarang yang membuka artikel-artikel yang bisa menambah pengetahuan.

Pengkaderan mahasiswa kini hanya menjadi sebuah kegiatan formalitas belaka. Kehilangan subtansi. Masih menggunakan konsep lama yang kerap tidak dipahami lagi oleh mereka yang melaksanakannya. Bahkan konsep-konsep itu terkesan di paksakan untuk jaman yang tidak mendukungnya lagi.

Dominasi budaya lisan daripada budaya literer di kampus membuat para penghuninya memiliki perspektif pendek. Manusia penghuni kampus itu kini bagaikan alien di tengah kota. Tak lagi peka, tak lagi kritis. Masih mengagungkan gagasan lama yang sudah basi, tidak lagi inovatif dan kreatif. Tak mampu berpikir abstrak, tak mampu melihat subtansi sebuah peristiwa. Tak lagi cakap melihat hubungan-hubungan peristiwa. Tak melihat berdasarkan akal budi tetapi hanya dengan indrawi semata.

Perguruan tinggi yang merupakan tempat para intelektual kota ini saja lebih didominasi oleh budaya lisan, maka jangan heran jika masyarakat secara umumpun demikian halnya. Dua peristiwa yang dipaparkan di awal tulisan ini tentu sudah bisa mendiskripsikan betapa malang kota ini yang perguruan tingginya mengabaikan budaya literer dalam kehidupannya. Lalu haruskah kita diam dan membiarkan ini terjadi begitu saja?

Salah satu upaya untuk mempertahankan posisi perguruan tinggi yang bebas, objektif dan kritis yaitu memperkuat kemampuan literer sebuah perguruan tinggi. Upaya ini bukan hanya tanggung jawab birokrasi kampus tetapi juga tanggung jawab dosen, mahasiswa dan seluruh kalangan civitas akademika.

Seharusnya civitas akademika mau menghabiskan waktunya untuk berpikir, menganalisa dan dalam hal tertentu menghasilkan solusi bahkan bukan hanya membaca atau sekedar menulis saja tetapi juga menyusun kekuatan dan strategi untuk mewujudkan sesuatu yang lebih objektif dan mendukung perubahan masyarakat yang lebih baik.

Membiasakan membuat notulensi saat diskusi adalah sebuah langkah kecil yang dapat ditempuh dalam membangun sebuah budaya literer. Jika sebuah budaya lisan masih mendominasi, maka marilah kita sama-sama mencoba menuangkan apa yang kita diskusikan dalam sebuah tulisan. Meski apa adanya tetapi memulai menuangkan sesuatu dari lisan menjadi tulisan mampu membuat kita mengembangkan pikiran.

Sudah saatnya perpustakaan di perguruan tinggi terus berbenah diri dengan menambah koleksi judul-judul baru. Suasananya pun selayaknya di ciptakan senyaman mungkin sehingga menambah gairah untuk membaca. Ada baiknya dinding tidak hanya dipenuhi pamflet-pamflet semata tetapi juga menyajikan tulisan-tulisan bermutu yang layak baca. Penampilan yang lebih menarik juga perlu untuk menarik para pembaca.

Bagaimanapun budaya literer seharusnya di mulai dari kesadaran personal untuk menciptakan sebuah perubahan bagi negeri ini. Mulailah mendisiplikan diri membaca koran setiap hari. Kini biarkan mereka tertunduk membuka halaman demi halaman buku di pangkuannya. Ikuti ia berdiri mengenyam bait demi bait artikel yang tertempel di dinding. Mulai dari sini, saat ini dan dari diri kita sendiri.


Aku dan kk-ku suka buku. aku dan kk-ku senang membaca. aku dan kk-ku gemar menulis. Inilah kehidupan kami.
Read the rest of this entry »


Kalau menulis adalah kebiasaan, mungkin aku tak terbiasa lagi. Tulis. Hapus. Tulis. Cancel. Tulis. Discard. Membosankan. Memuakkan. Em moh membacanya. Meliriknya pun rasanya enggan.

Jika menulis bisa menenangkan tetapi mengapa menulis malah menegangkan?

Seribu satu kata bersemayam, berlari, berputar di atas kepala tetapi tak satu pun yang bisa tertuang, tak di layar komputer bukan pula di atas kertas dengan tumpahan tinta.
Hapus….


Lewat tulisan aku coba terbuka
mengaktualisasikan kreativitas
dan menemukan dunia lain
tapi…
tulisanku ternyata telah membuat org lain mjd sakit hati
hingga membatasi kreativitasku
Kak Rais…
aku tak bermaksud jelek akan apa yg telah ku torehkan
hanya menyampaikan kabar gembira
yang sangat manusiawi
mengapa ini harus terjadi?
adakah yang sedang kau sembunyikan?

dari lubuk hati yang terdalam, saya mewakili redaksi Carrier memohon maaf sedalam-dalmnya atas kekhilafan yang telah kami perbuat.

January 2022
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Instagram @winarniks

No Instagram images were found.

Community

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Top Clicks

  • None

Blog Stats

  • 240,797 hits