You are currently browsing the category archive for the ‘Bawakaraeng’ category.


Puncak Bawakaraeng

Masih terang di ingatan kita, ketika Adiatma Achmad menghabiskan nafas terakhirnya di sebuah gunung yang cukup mistik di Sulawesi Selatan, Gunung Bawakaraeng. Mahasiswa UMI yang berasal dari Barru tersebut meninggal karena tidak sanggup melawan kedinginan di pos 8.

Belum genap tiga bulan berita itu menjadi perbincangan, kembali kita di gegerkan dengan berita meninggalnya 3 orang masyarakat di Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto dan Sinjai tersebut. Read the rest of this entry »


“Sudah baca koran hari ini?” Tanya Etta sepulangnya dari kantor.
Seketika aku berbalik ke arah sumber suara, setelah yakin Etta sedang berbicara padaku, aku pun menjawab, “Berita apa?”
“Ada lagi orang meninggal di Gunung Bawakaraeng.”
“Oh…” jawabku seadanya. “Dari kemarin ji ku dengar beritanya, kalau ada yang sakit di pos 8.” Dengan pandangan masih tertuju ke monitor komputer.
“Tau darimana?”
“Dari informanku di Lembanna.”
Berita meninggalnya Adiatma Achmad di posko 8 Gunung Bawakaraeng membuat orang-orang kembali geger. Adi, seorang mahasiswa Teknik Sipil, Universitas Muslim Indonesia angkatan 2006 meninggal dalam perjalanannya, Lintas Gunung Lompobattang – Bawakaraeng. Cuaca yang tidak bersahabat membuat Adi dan 4 rekannya harus menyerah dengan kekuatan alam. Di posko 8 Gunung Bawakaraeng, Adi pun meninggal dan 4 lainnya kritis.
Nasib naas yang menimpa anggota Mapala itu, makin meyakinkan argumen-argumen orang di rumah untuk kontra dengan aktivitas yang ku lakukan beberapa tahun terakhir ini.
“Kau mau nasibmu berakhir seperti itu?” Tanya mereka.
“Kalau memang ajalku meninggal di atas gunung, mau di apa. Kalau ajalku meninggal di tabrak, mau bagaimana? Kalau ajalku di tikam orang, terus kenapa?”
Jawabku, lalu segera berlalu dari mereka yang tidak pernah mengerti dengan aktivitasku ini.
Setiap orang bisa meninggal kapan saja dan dimana saja. Jadi bukan alasan yang tepat untuk menjadikan kematian di atas gunung agar melarang kami kembali bersua dengan alam….


Tiap komunitas memiliki cara sendiri memperingati hari kemerdekaan RI. Bagi para kelompok pecinta alam, mendaki gunung adalah pilihan yang paling tepat. Mereka memiliki cara tersendiri untuk memperingati tanggal 17 Agustus setiap tahunnya, yakni dengan mengibarkan bendera di puncak gunung. Lokasi paling favorit untuk melaksanakan upacara bendera bagi pendaki di Makassar dan sekitarnya adalah Gunung Bawakaraeng. Read the rest of this entry »


I. Sekilas Tentang Gunung Bawakaraeng

1.1 Asal Kata Bawakaraeng

Gunung Bawakaraeng berasal dari bahasa Makassar Bawa dan Karaeng. Kata Bawa berarti mulut dan Karaeng yang berarti Tuhan/Raja. Jadi Bawakaraeng berarti Mulut Tuhan.

1.2 Haji Bawakaraeng

Setiap tahunnya, Gunung Bawakaraeng di penuhi oleh jemaah haji untuk menunaikan ibadah haji

Haji Bawakaraeng adalah istilah bagi orang-orang yang mendaki gunung yang terletak di Kabupaten Gowa Sulsel ini, untuk melaksanakana ritual ibadah haji, yang mereka yakini sama nilainya dengan berhaji di tanah suci Mekkah.

Haji Bawakaraeng adalah fenomena yang sudah terjadi sejak lama dan masih terus berlansung hingga hari ini. Selain penduduk sekitar di Lembanna dan Kabupaten Gowa, adapula jemaah haji yang berasal dari Makassar, Maros, Pangkep, Sengkang bahkan dari Propinsi Sulawesi Barat, Mamuju. Musim haji yang paling ramai bertepatan dengan pelaksanaan Idul Adha, bulan Agustus dan juga menjelang puasa.

Para jemaah haji di Bawakaraeng justru membawa sesajen yang dipersiapkan sesuai dengan permohonan doa masing-masing. Ada yang mempersembahkan songkolo’ (beras ketan), lontong, telur, buah-buahan, rokok, daging ayam bahkan daging kambing. Pelaksanaan ibadah ini sendiri bisa dipandang sebagai wujud pencampuradukan kepercayaan lama, ritual mistik dan ajaran Islam yang memang masih ditemukan di kelompok masyarakat tertentu di berbagai daerah di Indonesia.



II. LETAK

Secara administrasi Gunung Bawakaraeng terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dan secara geografis terletak di antara 119o 56�� 40�� BT dan 05o19��01�� LS

III. IKLIM

Di pegunungan ini musim kemarau berlangsung dari bulan April sampai Agustus sedang musim hujan terjadi pada bulan September sampai Maret. Suhu minimum sekita 17��C dan maksimum 25��C.

IV. FLORA DAN FAUNA

Hutan di gunung ini di dominasi oleh vegetasi hutan dataran rendah, hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan atas. Tumbuhan yang banyak di temui di antaranya pinus, anggrek, edelweid, paku-pakuan, pandan, cengkeh, rotan dan lumut kerak.

Adapun faunanya adalah burung pengisap madu, burung coklat paruh panjang, nyamuk.

V. JALUR PENDAKIAN

Dalam mendaki Puncak Gunung Bawakaraeng kita dapat menggunakan jalur :

  1. Lembanna (Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa)
  2. Tassoso (Kecamatan Manipi, Kabupaten Sinjai)

VI. PENYAMPAIAN LOKASI

Pada pendakian kali ini, kami menempuhnya dengan menggunakan jalur Lembana. Adapun cara untuk sampai di Lembanna adalah sebagai berikut:

1. Dari kampus, naik pete-pete kampus 07 dengan biaya Rp. 2500/org dan turun di ujung jalan pettarani

2. Kemudian melanjutkan dengan pete-pete berwarna merah, jurusan Sungguminasa, menuju Terminal Sungguminasa dengan biaya Rp. 2000/orang.

3. Di Terminal Sungguminasa, perjalanan di lanjutkan dengan menumpangi pete-pete Malino, langsung ke kampung Beru dengan biaya Rp. 15.000/org 20.000/org (update April 2008)

4. Setibanya di Kampung Beru, perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki menuju desa Lembanna.

Tulisan lain tentang bawakaraeng :

* Haji Bawakaraeng

* Gunung Bawakaraeng (data koordinat dan ketinggian)


I. KETINGGIAN DAN KOORDINAT

No.

Lokasi

Ketinggian

(mdpl)

Koordinat

1

Desa Lembanna

1511

S 05� 15′ 13,1”

E 119� 54′ 20,0”

2

Pos I

1721

S 05� 16′ 07,3”

E 119� 54′ 44,1”

3

Pos II

1811

S 05� 16′ 31,6”

E 119� 54′ 53,4”

4

Pos III

1841

S 05� 16′ 42,7”

E 119� 54′ 58,6”

5

Pos IV

1960

S 05� 16′ 57,0”

E 119� 55′ 18,7”

6

Pos V

2167

S 05� 17′ 12,0”

E 119� 55′ 47,9”

7

Pos VI

2372

S 05� 17′ 31,2”

E 119� 56′ 09,2”

8

Pos VII

2558

S 05� 17′ 50,2”

E 119� 56′ 11,5”

9

Pos VIII

2507

S 05� 18′ 29,2”

E 119� 56′ 38,8”

10

Pos IX

11

Pos X

2836

S 05� 19′ 01,6”

E 119� 56′ 40,2”

II. JARAK DAN WAKTU TEMPUH

No.

Lokasi

Pukul

Waktu Tempuh

Jarak Udara

(kilo meter)

1

Kampus � Ujung Pettarani

16.15 � 16.55

40 menit

2

Pettarani – Terminal

17.05 � 17.28

23 menit

3

Terminal � Kampung Beru

17.45 � 20.30

2 jam 45 menit

4

Kampung Beru – Lembanna

20.35 � 20.54

19 menit

Jumlah

4 jam 7 menit

puncak Bawakaraeng


Sayup-sayup suara “Lailahaillallah” terdengar di balik kabut. Kelelahan yang menggerogoti tubuh setelah pendakian panjang kurang lebih tujuh jam menyusuri punggung Gunung Bawakaraeng dari Lembah Kharisma, berganti menjadi semangat baru. Hari itu, Kamis 10 Agustus 2006, cuaca cerah dan langit tampak begitu dekat di atas kepala. Bersama dengan teman-teman pendaki lainnya, saya mempercepat langkah melewati jalur pendakian yang licin, berharap segera menemukan sumber suara itu. Tak lama, antara percaya dan tidak percaya, antara rasa heran dan kagum, kami terpaku melihat kemampuan sekelompok orang yang menuruni tebing terjal tanpa satu pun alat bantu pendakian. Mereka lincah dan tangguh menaklukkan tebing terjal. Merekalah sumber suara itu, orang-orang yang sedang melaksanakan “ibadah haji” di Gunung Bawakaraeng. Seolah-olah, lantunan tiada henti menyebut keagungan Allah menjadi alat bantu yang jauh lebih ampuh daripada berbagai peralatan yang biasa digunakan para pendaki.

Setelah menuruni tebing yang terjal selanjutnya mereka mendaki ke tempat yang lebih tinggi. Sebuah titian kecil dengan jurang di kiri dan kanan yang tertutup kabut, merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan yang mereka percaya sebagai Mekkah. Di tempat ini terdapat sebuah batu besar yang juga dipercaya sebagai batu yang sama dengan batu dari surga Hajar Aswad di tanah suci Mekkah. Sambil melafalkan “Lailahaillallah” mereka mengelilingi batu besar itu, kadang-kadang ada yang berhenti dan menciumnya. Setelah itu mereka bersujud dan berdoa, kemudian mempersembahkan sesajen masing-masing. Ritual di tempat yang disebut Mekkah itu berlangsung sekitar 30 menit, yang antara lain ditandai dengan penyerahan sesajen. Sedangkan lantunan menyebutkan nama sang pencipta terus dilakukan para jemaah, selepas prosesi di “Mekkah” termasuk saat menyelesaian pendakian dan kembali menuruni lereng gunung.


Para jemaah haji khusyuk berdoa
Foto: Winarni.

Menggelar sajadah di lokasi yang dipercaya sebagai “Mekkah”
Foto: Winarni.

Memang, di balik keindahan puncak Gunung Bawakaraeng tersimpan banyak cerita mistik. Konon apabila bumi yang bulat ini diratakan maka gunung dengan ketinggian 2.830 dari permukaan laut ini dipercaya sebagai pusat bumi. Gunung Bawakaraeng dianggap memiliki energi yang sangat besar dan merupakan tempat pilihan para wali untuk mempermantap ilmunya. Secara harfiah Bawakaraeng artinya Mulut (bawa) Sang Pencipta (karaeng), dan nama ini pula yang menyuburkan berbagai mistik serta kepercayaan.

Dan salah satu kepercayaan yang diyakini sekelompok masyarakat itu pulalah yang menjadi alasan lahirnya ritual ibadah haji ke Gunung Bawakaraeng. Bagi yang percaya, melaksanakan ibadah haji ke gunung yang merupakan tempat pendakian yang paling ramai di Sulawesi Selatan ini, sama nilainya dengan ibadah haji ke Mekkah. Haji Bawakaraeng adalah fenomena yang sudah terjadi sejak lama dan masih terus berlangsung hingga hari ini. Selain penduduk sekitar di Lembanna dan Kabupaten Gowa, adapula jemaah haji yang berasal dari Makassar, Maros, Pangkep, Sengkang bahkan ada yang dari Mamuju. Musim haji yang paling ramai bertepatan dengan pelaksanaan Idul Adha, di bulan Agustus, dan juga saat menjelang puasa.

Uniknya, ritual Haji Bawakaraeng ini dilaksanakan tidak sekadar untuk mendapatkan gelar “haji”, tapi yang lebih penting adalah untuk memohon keselamatan, rezeki dan juga permintaan khusus lainnya kepada yang maha kuasa. Ritual ini tentu sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam yang melarang kegiatan persembahan dan pemujaan selain aturan shalat dan bentuk ibadah lainnya yang telah ditetapkan hukumnya. Para jamaah haji di Bawakaraeng justru membawa sesajen yang dipersiapkan sesuai dengan permohonan doa masing-masing. Ada yang mempersembahkan songkolo’ (beras ketan), lontong, telur, buah-buahan, daging ayam bahkan ada yang membawa daging kambing. Pelaksanaan ibadah ini sendiri bisa dipandang sebagai wujud pencampuradukan kepercayaan lama, ritual mistik, dan ajaran Islam, yang memang masih ditemukan di kelompok masyarakat tertentu di berbagai daerah di Indonesia.

Saat malam telah benar-benar jatuh, dan subuh segera menjelang, lantunan “Laailahaillallah” masih terus terdengar. Para jemaah yang terdiri dari sekitar 30 orang laki-laki dan wanita itu terus melafalkan puja-puji sambil bersiap menuruni gunung di keesokan paginya, untuk kembali ke kampung masing-masing.

January 2022
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Instagram @winarniks

No Instagram images were found.

Community

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Top Clicks

  • None

Blog Stats

  • 240,797 hits