Tiba-tiba saya mengingat satu pertanyaan yang saya ajukan dahulu ketika fieldtrip di Bira, Bulukumba, untuk mata kuliah  Geologi Tata Lingkungan.

“Pak, apa maksudnya kata-kata: ‘tegar bagaikan karang’?”

Sontak pertanyaan ini menghadirkan tawa semua peserta bahkan asisten geologi yang kala itu hadir. Siangnya Pak Inji menjelaskan bagaimana sebuah karang yang akhirnya berubah bentuk karena air. Dan saya pun mengambil kesimpulan ternyata karang tak setegar seperti kata-kata penyair. Tanyapun bergerak bebas dikepalaku, siapa tahu saja “setegar batu karang” yang kadang digunakan penyair punya arti filosofi yang lain. Nyatanya Pak Inji pun hanya bisa tertawa mendengar pertanyaan itu, ini mata kuliah GTL bukan belajar menulis puisi, pertanyaanku tidak terjawab.

Hari ini kembali saya bertanya,

“Adakah karang yang betul-betul tegar???”

Adakah yang tetap tangguh menghadapi terpaan ombak dan gelombang yang terus menyerang tanpa pupus??? Adakah yang akan tetap tegar menghindari cabikan air yang sangat dahsyat???

Melihat material air, kita pasti akan sepakat bahwa ia mewakili kelembutan, tapi ia mampu merubah bentuk karang karena menghantamnya terus menerus. Dahsyat bukan???

Karang di pantai memang tampak kokoh meski ia diterjang badai dan ombak di lautan, tapi lihatlah………. Ia tak seperti dulu lagi.

Dan adakah yang mampu menjamin ada yang masih bisa berdiri tangguh seperti dulu lagi? Di kala semua ini menerpa tanpa pupus?

Mungkin ada yang cukup pandai memainkan peran untuk tampak kokoh, berdiri tegak, menyajikan senyum, tidak menetaskan air mata, tapi…. semua palsu, tak usah disembunyikan…

Malah saya yang sebenarnya yang kini betul-betul rapuh melihat apa yang kami hadapi. Membayangkan hari-hari yang akan kami alami selanjutnya. Memikirkan kata-kata yang akan kami dengar esok dan seterusnya. Merasakan siksaan batin yang akan makin menyesakkankan berikutnya.

Jika saya menganologikan kami adalah karang, maka kini kami tak lagi “tegar” tapi kini kami “pasrah” bagaikan karang. Yah… kini saya menjawab pertanyaan itu sendiri, “setegar karang” berarti “sepasrah karang.”

Kita bisa sama-sama tertawa, terbahak. Tapi mata kita yang bengkak berbicara: ada sakit yang bersemayam di hati masing-masing.  Dan kita sama-sama tertawa hanya untuk saling menertewai diri masing-masing, hei apa yang bisa kita lakukan lagi???

Etta, ajari saya mempunyai kesabaran seperti dirimu!!!

Saya mengigit bibir dan mencoba menyepi di hari nyepi ini. Tetapi rupanya menyepi hanya membuatku semakin rapuh. Terima kasih internet, kau menemaniku lagi…