Ibu-Etta, apakah hidup adalah sebuah pencarian eksistensi? Mengenai ada dan tiada, atau mengenai merasa ada dan merasa tiada? Keberterimaan atau tidak keberterimaan? Ingat atau lupa? Apakah keberadaan harus ditandai dengan penampakan fisik? Apakah ketidakberadaan pantas untuk terlupakan? Apakah ada sama dengan guna? Berarti tidak berguna sama dengan tidak ada?

Om-tante, maafkan segala sikap yang bagi kalian aneh, atau mungkin hal yang tak pernah kalian anggap benar. Berulang kali aku berusaha untuk tersenyum tetapi sejauh ini yang dapat aku lakukan hanya mengangkat sudut-sudut bibirku dengan lemah. Berulang kali aku berusaha untuk berucap tetapi sejauh ini yang dapat aku lakukan hanya mengangguk dan menggeleng.

Teman, sesungguhnya tak ada orang yang betul-betul ingin sendiri, seperti tak ada satupun orang yang betul-betul pendiam. Sesungguhnya mereka bukan pendiam, hanya enggan untuk berbicara pada orang-orang tertentu. Sesungguhnya mereka bukan tak memiliki cerita, hanya cara penyampaiannya yang berbeda. Bukankah sebuah cerita akan terlihat dan terdengar menarik dari cara penyampaiannya? Bukankah hal itu berarti tak ada satupun cerita yang tidak menarik?

Lalu apakah betul, ada yang menyukai kesendirian? Bukankah kita terlahir sebagai makhluk sosial? Hanya saja, berulang kali kami mencoba untuk masuk, menyatu dan berbaur tetapi sekali lagi kondisi sosial itu membuat kami kecewa.

Jadi apakah aku betul-betul ada dalam keberadaan yang nyata? Atau apakah keberadaanku tidak terlihat, terdengar atau tak terasakan? Atau apakah aku tidak mampu menunjukkan guna? Lalu, apakah penting aku mempertanyakan sebuah eksistensi diri? Bukankah sosial pun tak pernah mempertanyakannya?

Mungkin aku yang belum mampu memaknai sebuah pemaknaan? Atau aku yang belum sanggup mengartikan sebuah pengertian? Atau aku yang tidak berdaya untuk menjawab sebuah pertanyaan?

Disaat tahun berganti, aku dengan bodohnya kembali bertanya, apakah aku betul-betul ada?