Shogun itu terparkir manis di depan bengkel, aku mendekatinya, menatapnya dengan seksama. Warna kuning sebagai identitasnya masih terpoles di body nya. Ia pun tersenyum padaku dan mengisahkan byk cerita. Kenangan itupun menarik gas dalam ingatanku satu-satu.

Dulu ia sering berlari membelah jalan, tp kini ia hanya terpaku disini sejak ditinggal sang pembalap. Dulu suaranya nyaring memecah bangunan di tepi jalan, tapi kini, ia diam, membisu.

Ia pernah membuatku menangis terbahak-bahak saat menjatuhkanku di sebuah perjalanan hendak pulang ke rumah. Ia juga pernah membuatku tertawa tersedu-sedu saat kami melintasi jalan menuju sebuah kabupaten.

Masih terang dimataku jalan-jalan yang kerap dilaluinya. Masih jelas di memoriku tempat-tempat yang sering disinggahinya.
Masih membekas ukiran senyumku, masih terdengar suara tawaku, masih terbayang wajah cemberutku, masih basah airmataku, di atas sadel itu.

Segala ingatan bersamanya menganga lebar, membuatku terpuruk karena bahagia tetapi membuatku melayang karena terluka.

Aku menatapnya sekali lagi. Warna kuning itu masih begitu khas. Ia masih saja sendiri. Akupun berbalik, juga meninggalkannya. Aku menyimpan semua kenangan itu disebuah ruang kosong di bawah sadel, berharap aku melupakannya. Meski aku tak yakin semua akan tergilas.