Aku rindu. Sangat rindu. Bahkan lebih, hingga aku tak mampu menemukan padanan yang cocok untuk itu. Bayanganmu terus saja menghantuiku. Membawa bola kenangan satu-satu. Mengusik kalbu. Membuatku tersadar bahwa aku belum siap menghadapi kepergianmu.

Kau tau persis bagaimana seharusnya berlaku. Seakan-akan kau memiliki kartuku. Aku memang pemalu dan kaku. Tetapi kau mampu menyusup dalam jiwaku. Kadang-kadang kau membuatku tertawa tetapi juga terharu. Kau perlakukan aku laiknya seorang ratu. Di dekatmu, aku tak lagi merasa biru.

Aku merasa nyaman bersamamu. Kau mampu mengusir galau. Menenangkan aku dengan caramu. Kata-katamu memang tak semanis madu, tetapi nyata, tidak semu. Itu kelebihanmu. Kau ciptakan damai bersamamu, hingga tak mampu membuatku berseru.

Kau selalu menanyakan kesehatanku. Tampak mengkhawatirkanku jika aku mulai layu. Kau selalu gundah jika melihat mataku mulai sayu. Ketika aku sakit, hanya padaku perhatianmu tertuju.

Kerap kali kau mengajakku meneguk es kelapa muda di racing centre atau di dekat landak baru. Kadang-kadang kita menikmati nasi goreng dan membiarkan warna merah dan putihnya berpadu. Kita senang makan coto, hati dan paru. Dan sebelum kita memulai makan, kau tak pernah lupa membersihkan meja dengan tissu.

Dulu aku selalu duduk di sadel motormu. Kau menancap gas hingga motormu menderu. Aku pun memelukmu dengan tangan mungilku. Kadang-kadang pelukanku dua kali lebih kuat, ketika malam makin beku. Sepulang kita ngobrol semaumu dan semauku, di pantai losari melihat perahu. Terkadang kau elus tanganku dari balik jaketmu, tempat tangan itu bersembunyi dari sang bayu. Kau siap melindungiku dari bahaya yang menganggu.

Tetapi semua tinggal masa lalu. Apakah aku akan tetap menunggu? Aku pun tak tahu…