You are currently browsing the monthly archive for June 2008.


Telah lewat dua bulan semenjak saya terakhir kali lewat di jalan tol menuju Jembatan Tallo. Nuansa di tempat itu sudah banyak berubah. Jalanan sudah diperlebar, dan pondasi untuk Jembatan Tallo yang baru sudah ditancapkan. Tampaknya pemerintah cukup serius menangani perbaikan jalan di situ. Namun sayang, geliat pembangunan itu tampaknya masih saja kontras dengan deretan rumah-rumah kumuh yang mendominasi tepi jalan. Read the rest of this entry »


Sudah bukan rahasia lagi, klo ngurus transkrip nilai di Jurusan Arsitektur itu lamanya minta ampun…
Dua minggu lalu saya sudah menyerahkan selembar kertas yang berisikan nama dan nomor stambuk, sebuah persyaratan yang diajukan ketika kita ingin meminta transkrip nilai. Seminggu kemudian saya datang ke kampus, transkrip itu belum juga selesai. alasanya, kertas tersebut hilang. Ye… kok tidak di simpan baek2 seh??? Read the rest of this entry »


Dulu… aku tak pernah habis pikir dengan mereka yang rela begadang untuk menonton pertandingan sepakbola, olahraga yang dimainkan oleh 22 pemain untuk memperebutkan satu bola. Namun, Euro 2008 mengubah perspektifku mengenai olahraga yang satu ini. Berawal karena tidak bisa tidur di malam hari, akhirnya ikut-ikutan menonton bola dengan orang-orang di rumah untuk mengisi waktu. Dan hingga hari ini, pertandingan demi pertandingan tidak pernah kulewatkan. Read the rest of this entry »


Entah sampai kapanku dapat bertahan

Menghadapi hujan yang turun terlalu deras

Menahan sengatan matahari yang begitu panas

Entah sampai kapanku dapat bertahan

Melewati malam yang gulita

Menghalau silaunya cahaya di siang hari

Tanpa dirimu…

Yang aku pahami

Aku harus tetap melanjutkan perjalanan

Jalur berliku, mendaki, menurun

Akan kulewati…

Tapi bukan denganmu lagi aku akan mencari tujuan itu…

Jangan menyangka ada kawan baru menemaniku

Karena masih sulit bagiku menjalani ini dengan orang lain

Biarkan aku melangkah sendiri lagi…


Kembali penyakit ini menjangkitiku. Padahal ketika KKN dan pasca KKN tidurku sudah mulai “sedikit” normal. Dan insomnia itu kembali menjangkitiku sejak kira-kira 2 bulan yang lalu.

Pada bulan pertama, aku terlelap pada waktu yang normal tetapi di tengah malam, terbangun dan tak bisa tertidur lagi hingga subuh bahkan pagi tiba. Selalu saja ada hal yang terpikir dan membangunkanku dari tidur dan sulit untuk bermimpi lagi.

Dan sebulan terakhir, kesulitan tidur itu makin menyulitkanku memejamkan mata tepat waktu. Penyakit lama itu kembali lagi. Dahulu, aku memang pernah mengalami penyakit yang serupa. Tak bisa tidur hingga subuh tiba. Aku telah berusaha semaksimal mungkin tetapi tetap saja sulit tertidur.

Aku mungkin terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tak penting hingga membuatku cemas dan gelisah. Bisa jadi…

Hmm… Andai saja, insomnia ini membuat aktivitasku berjalan normal. Andai saja, insomnia ini membuat kepalaku tidak sakit ketika terbangun. Andai saja, insomnia ini membuatku mampu menghasilkan banyak karya baru. Andai saja, insomnia ini bisa menyelesaikan semua masalah… Yah… semua andai saja. Tetapi… kenyataannya tidak seperti itu kan???


Panorama alam yang indah dan disebut sebagai atap pulau Sulawesi menjadikan Gunung Latimojong banyak dilirik para pendaki di Indonesia.

Pegunungan Latimojong terdiri dari beberapa puncak dan dapat di daki melalui beberapa jalur karena letaknya di tengah-tengah Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Luwu.

Adapun puncak-puncak Pegunungan Latimojong yang membujur dari utara ke selatan yakni:

  1. Buntu Sinaji (2437)
  2. Buntu Lapande (2487)
  3. Buntu Sikolong (2754)
  4. Buntu Rantekambola (3083)
  5. Buntu Rantemario (3478)
  6. Buntu Nenemori (3397)
  7. Buntu Latimojong (3305)
  8. Buntu PasaBombo (2965)
  9. Buntu Pallu (3086)
  10. Buntu Lariu (2700)

Sedangkan puncak yang melintang dari barat ke timur yakni:

  1. Buntu Pantealoan (2500)
  2. Buntu Pokapinjang (2870)
  3. Buntu Rantemario (2478)

Jalur

Banyak jalur yang dapat dilalui untuk mencapai Puncak Rantemario (3478), diantaranya:

  1. Jalur yang paling sering di lalui ialah jalur Karangan yaitu jalur yang di mulai dari Dusun Karangan, Desa Latimojong. Jalur ini adalah jalur yang membutuhkan waktu yang paling singkat di bandingkan jalur lainnya. Meskipun waktu terbilang singkat namun medannya cukup sulit karena terus menanjak. Letaknya di tengah hutan maka pemandangan di jalur ini di dominasi pohon-pohon tinggi.
  2. Jalur kedua melalui dusun Bone-bone menuju Buntu Pantealoan kemudian melalui jalur dengan berbagai jenis medan. Jalur ini dapat ditempuh dalam waktu 3 hari.
  3. Jalur ketiga menempuh Jalur Angin-angin yang di mulai dari Dusun Angin-angin yang masih dalam wilayah administrasi Desa Latimojong. Jalur ini dapat di tempuh dalam tiga hari. Pesona alam yang beragam menjadikan jalur ini diminati meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.

Transportasi

Untuk tiba di Dusun terakhir, perjalanan di tempuh dari Kota Makassar sejauh 200 km menuju ibu kota Kabupaten Enrekang. Dari sini, perjalanan di lanjutkan sejauh 30 km menuju ibukota Kecamatan Baraka. Biaya transportasi hingga tiba di tempat ini adalah 45 ribu rupiah.

Perjalanan selanjutnya dapat ditempuh dengan menumpangi sejenis mobil mikrolet hingga Desa Buntu Dea lalu berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam menuju Dusun Angin-angin ataupun Dusun Karangan. Alternatif kendaraan truk juga dapat digunakan dan akan mengantarkan kita dari ibukota Kecamatan Baraka menuju Dusun Rantelemo  dengan biaya sebesar 20 ribu rupiah. Namun kedua angkutan ini hanya ada pada hari pasar, Senin dan Kamis.

Angkutan lain adalah ojek, tentu dengan ongkos yang jauh lebih mahal.


“Sudah baca koran hari ini?” Tanya Etta sepulangnya dari kantor.
Seketika aku berbalik ke arah sumber suara, setelah yakin Etta sedang berbicara padaku, aku pun menjawab, “Berita apa?”
“Ada lagi orang meninggal di Gunung Bawakaraeng.”
“Oh…” jawabku seadanya. “Dari kemarin ji ku dengar beritanya, kalau ada yang sakit di pos 8.” Dengan pandangan masih tertuju ke monitor komputer.
“Tau darimana?”
“Dari informanku di Lembanna.”
Berita meninggalnya Adiatma Achmad di posko 8 Gunung Bawakaraeng membuat orang-orang kembali geger. Adi, seorang mahasiswa Teknik Sipil, Universitas Muslim Indonesia angkatan 2006 meninggal dalam perjalanannya, Lintas Gunung Lompobattang – Bawakaraeng. Cuaca yang tidak bersahabat membuat Adi dan 4 rekannya harus menyerah dengan kekuatan alam. Di posko 8 Gunung Bawakaraeng, Adi pun meninggal dan 4 lainnya kritis.
Nasib naas yang menimpa anggota Mapala itu, makin meyakinkan argumen-argumen orang di rumah untuk kontra dengan aktivitas yang ku lakukan beberapa tahun terakhir ini.
“Kau mau nasibmu berakhir seperti itu?” Tanya mereka.
“Kalau memang ajalku meninggal di atas gunung, mau di apa. Kalau ajalku meninggal di tabrak, mau bagaimana? Kalau ajalku di tikam orang, terus kenapa?”
Jawabku, lalu segera berlalu dari mereka yang tidak pernah mengerti dengan aktivitasku ini.
Setiap orang bisa meninggal kapan saja dan dimana saja. Jadi bukan alasan yang tepat untuk menjadikan kematian di atas gunung agar melarang kami kembali bersua dengan alam….

June 2008
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Instagram @winarniks

No Instagram images were found.

Community

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Top Clicks

  • None

Blog Stats

  • 240,797 hits