You are currently browsing the monthly archive for September 2006.


Sayup-sayup suara “Lailahaillallah” terdengar di balik kabut. Kelelahan yang menggerogoti tubuh setelah pendakian panjang kurang lebih tujuh jam menyusuri punggung Gunung Bawakaraeng dari Lembah Kharisma, berganti menjadi semangat baru. Hari itu, Kamis 10 Agustus 2006, cuaca cerah dan langit tampak begitu dekat di atas kepala. Bersama dengan teman-teman pendaki lainnya, saya mempercepat langkah melewati jalur pendakian yang licin, berharap segera menemukan sumber suara itu. Tak lama, antara percaya dan tidak percaya, antara rasa heran dan kagum, kami terpaku melihat kemampuan sekelompok orang yang menuruni tebing terjal tanpa satu pun alat bantu pendakian. Mereka lincah dan tangguh menaklukkan tebing terjal. Merekalah sumber suara itu, orang-orang yang sedang melaksanakan “ibadah haji” di Gunung Bawakaraeng. Seolah-olah, lantunan tiada henti menyebut keagungan Allah menjadi alat bantu yang jauh lebih ampuh daripada berbagai peralatan yang biasa digunakan para pendaki.

Setelah menuruni tebing yang terjal selanjutnya mereka mendaki ke tempat yang lebih tinggi. Sebuah titian kecil dengan jurang di kiri dan kanan yang tertutup kabut, merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan yang mereka percaya sebagai Mekkah. Di tempat ini terdapat sebuah batu besar yang juga dipercaya sebagai batu yang sama dengan batu dari surga Hajar Aswad di tanah suci Mekkah. Sambil melafalkan “Lailahaillallah” mereka mengelilingi batu besar itu, kadang-kadang ada yang berhenti dan menciumnya. Setelah itu mereka bersujud dan berdoa, kemudian mempersembahkan sesajen masing-masing. Ritual di tempat yang disebut Mekkah itu berlangsung sekitar 30 menit, yang antara lain ditandai dengan penyerahan sesajen. Sedangkan lantunan menyebutkan nama sang pencipta terus dilakukan para jemaah, selepas prosesi di “Mekkah” termasuk saat menyelesaian pendakian dan kembali menuruni lereng gunung.


Para jemaah haji khusyuk berdoa
Foto: Winarni.

Menggelar sajadah di lokasi yang dipercaya sebagai “Mekkah”
Foto: Winarni.

Memang, di balik keindahan puncak Gunung Bawakaraeng tersimpan banyak cerita mistik. Konon apabila bumi yang bulat ini diratakan maka gunung dengan ketinggian 2.830 dari permukaan laut ini dipercaya sebagai pusat bumi. Gunung Bawakaraeng dianggap memiliki energi yang sangat besar dan merupakan tempat pilihan para wali untuk mempermantap ilmunya. Secara harfiah Bawakaraeng artinya Mulut (bawa) Sang Pencipta (karaeng), dan nama ini pula yang menyuburkan berbagai mistik serta kepercayaan.

Dan salah satu kepercayaan yang diyakini sekelompok masyarakat itu pulalah yang menjadi alasan lahirnya ritual ibadah haji ke Gunung Bawakaraeng. Bagi yang percaya, melaksanakan ibadah haji ke gunung yang merupakan tempat pendakian yang paling ramai di Sulawesi Selatan ini, sama nilainya dengan ibadah haji ke Mekkah. Haji Bawakaraeng adalah fenomena yang sudah terjadi sejak lama dan masih terus berlangsung hingga hari ini. Selain penduduk sekitar di Lembanna dan Kabupaten Gowa, adapula jemaah haji yang berasal dari Makassar, Maros, Pangkep, Sengkang bahkan ada yang dari Mamuju. Musim haji yang paling ramai bertepatan dengan pelaksanaan Idul Adha, di bulan Agustus, dan juga saat menjelang puasa.

Uniknya, ritual Haji Bawakaraeng ini dilaksanakan tidak sekadar untuk mendapatkan gelar “haji”, tapi yang lebih penting adalah untuk memohon keselamatan, rezeki dan juga permintaan khusus lainnya kepada yang maha kuasa. Ritual ini tentu sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam yang melarang kegiatan persembahan dan pemujaan selain aturan shalat dan bentuk ibadah lainnya yang telah ditetapkan hukumnya. Para jamaah haji di Bawakaraeng justru membawa sesajen yang dipersiapkan sesuai dengan permohonan doa masing-masing. Ada yang mempersembahkan songkolo’ (beras ketan), lontong, telur, buah-buahan, daging ayam bahkan ada yang membawa daging kambing. Pelaksanaan ibadah ini sendiri bisa dipandang sebagai wujud pencampuradukan kepercayaan lama, ritual mistik, dan ajaran Islam, yang memang masih ditemukan di kelompok masyarakat tertentu di berbagai daerah di Indonesia.

Saat malam telah benar-benar jatuh, dan subuh segera menjelang, lantunan “Laailahaillallah” masih terus terdengar. Para jemaah yang terdiri dari sekitar 30 orang laki-laki dan wanita itu terus melafalkan puja-puji sambil bersiap menuruni gunung di keesokan paginya, untuk kembali ke kampung masing-masing.


Sinusitis memang bukan penyakit yang parah

Tapi cukup membuatku menjadi payah

Kebiasan baru malas kuliah

Akhirnya membuatku kehilangan arah

Apakah aku yang salah…?

Tolonglah…


Terima kasih telah meyempatkan diri menarikan mata Anda pada tulisan yang tak berharga ini. “Mungkin..” saya tak mampu bersilat huruf dan kata-kata yang tak biasa, “mungkin” saya orang yang tak pandai menulis, “mungkin” tulisan ini tak pantas untuk dibaca, ataukah “mungkin” saya adalah penakut yang tak mau berdebat whateverlah… I just wanna lay up my opinion in here…

Bubarkan OKFT-UH”, sejenak aku tersentak membaca kalimat itu, kutelusuri kata demi kata mengobati rasa penasaran yang tengah menggerogoti. *sling…* imajinasiku melayang…, kuanalogikan lembaga sebagai kekasih yang kadang-kadang kucuekin namun dia tetap setia padaku dan kemudian… ia menghilang atau lebih parah lagi meninggal… Sedih…, kehilangan…, mungkin saja itu yang kurasakan saat dia tak disampingku lagi… (sometime sesuatu akan terasa berharga saat kita kehilangannya, isn`t it???)

Mungkinkah kehilangan lembaga akan seperti itu??? Kita baru tau bahwa dia begitu berharga setelah lembaga di bubarkan??? After that, kita akhirnya kembali memupuk niat dan semangat hingga KOFTE tidak hanya menjadi suatu kalimat yang hampa… Ah… entahlah… pertanyaan ini hanya tersimpan, sampai OKFT benar-banar dibubarkan. Andai saja waktu bisa terulang kembali atau beri kesempatan sekali lagi (lagu apa bede…?)

Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar dan apa yang kita rasakan sekarang tak seperti dulu lagi… (senior kadang-kadang berbicara seperti ini). Tapi apakah perbedaan itu terjadi karena orang yang berbeda atau zaman yang memang dinamis hingga sistempun harus bergeser?

Mengapa seniorku jauh lebih hebat? Mengapa mereka dapat berpikir sekaligus dapat bekerja? Mengapa nama mereka menggaung begitu besar? Tapi kami (baca : junior) hanya mampu terpukau tanpa bisa memukau, hanya mampu mangamat tanpa bisa berbuat, hanya mampu manatap namun enggan melangkah dengan mantap dan akhirnya terpenjara dalam sejarah…

Guru yang hebat adalah guru yang bisa menghasilkan murid yang lebih hebat, kalimat ini tentu tak asing lagi. *buzz…* kemudian aku tersadar (mungkin) seniorku tak sehebat yang kupikirkan. Buktinya, mereka tak mampu menghasilkan murid-murid yang lebih hebat daripada dirinya… mungkinkah (maaf) seniorku terlalu egois? Atau (maaf) juniornya terlalu ongol…?

Dalam ilmu pocong, seseorang yang punya ilmu tak boleh mati apabila ia belum mawariskan keahliannya tetapi apakah metode seperti itu juga berlaku di lembaga ini? –tanya ma`…-

Semuanya hanya menjadi pertanyaanku…! Thx buat –ababil- atas tulisannya dan 9 kata “mungkin” yang menjadi inspirasiku…


Jauh di lubuk hatiku…

Masih terukir namamu…

Tahun ini sudah memasuki tahun kedua sejak ku putuskan untuk tidak lagi menghubungi ben…

Meski jalan itu terasa sangat berat…, tapi toh sampe kini aku masih menjalaninya…

Ben…
Nama ini begitu lekat dalam hatiku…
Keisengan kami membuat kami akhirnya berkenalan

Aku dan dirinya
Melalui media kami berbagi cerita
Melalui media kami berbagi canda
Melalui media kami saling bertanya kabar
Melalui media kami saling terbuka

Bahkan…
Melalui media kami berbagi cinta kasih
Melalui media kami saling menyayangi

Traumatik membuatku beku akan cinta
Tertutup dalam rasa
Minim akan kepercayaan

Namun…

Dia …
Hanya dia yang membuat hatiku mencair
Membuatku terbuka
Membuatku percaya

Ketika indahnya kebahagiaan baru saja kuraih
Kehilangan… Kerinduan…
Rasa itu mengganti semuanya
Setelah aku menjauh darinya

Oh Tuhan…
Aku tak berharap dirinya lagi…
Aku tak menginginkan dirinya lagi

Tapi…

Aku butuh suatu keterbukaan
Yang tidak membuatku malu
Yang tidak membuatku cemas
Yang tidak membuatku takut
Seperti keterbukaanku pada dirinya…

HaPpY B`day Ben
noldelapan09

September 2006
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Instagram @winarniks

No Instagram images were found.

Community

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Top Clicks

  • None

Blog Stats

  • 240,797 hits