jam tangan wanitaTiba-tiba saja saya merasa wajib untuk balik ke rumah, padahal langkahku sudah cukup jauh hingga dipersimpangan jalan, dan tentu hanya hal yang penting yang membuat kakiku harus berbalik arah. Keadaan ini membuat saya tiba-tiba tersenyum dan mengingat kata-kata nenek. Setiap saya akan meninggalkan rumah, nenek selalu bertanya “Da ada mi kau lupa?”.

Entah ini disebut pelupa atau tidak, yang pasti sudah berulang kali saya kembali ke rumah hanya untuk mengambil sesuatu yang tiba-tiba teringat setelah saya sudah berada di dalam perjalanan. Entah itu hp, buku, pulpen, dompet atau bahkan uang. Hal ini membuat saya punya kebiasaan setiap akan meninggalkan rumah, duduk beberapa menit dan mencoba mengingat apa saja yang mungkin terlupa. Rupanya kebiasaan itu tidak saya lakukan sebelum meninggalkan rumah tadi, walhasil saya pun menyadari bahwa saya lupa mengenakan jam tangan.

Saya bukan seorang perempuan yang senang menggunakan perhiasaan. Perhiasaan di telinga seperti anting-anting, perhiasan di leher serupa kalung, perhiasaan di jari berupa cincin atau perhiasaan di tangan seperti gelang atau pun jam tangan bukanlah menjadi gaya hidupku. Hal ini sempat membuat ibu ngomel jika tiba saatnya kami harus menghadiri sebuah pesta, beliau kadang memaksa agar saya mau menggenakan perhiasan-perhiasan itu, entah untuk apa. Walaupun pada akhirnya dengan terpaksa saya pun harus mengenakannya.

Lalu, ada apa dengan jam tangan? Bukankah memakai benda itu bukan menjadi gaya hidupku? Seberapa penting benda itu hingga saya harus memutar arah, berbalik kerumah, hanya untuk mengambil dan mengenakannya?

Sejarah jam tangan
Sebelum tahun 1600 masalah utama jam portable adalah kemampuan daya untuk bertahan. Kala itu, penunjuk jam masih sangat berat sehingga tidak praktis bagi aktivitas manusia yang padat. Seiring perkembangannya, jam portabel pun di desain terbuat dari baja dan kuningan. Tetapi jam portable sebagai penunjuk waktu belum memenuhi syarat keakuratan. Hingga akhir periode ini, astronomi data dan tanggal telah di tampilkan di jam portabel.

Pada tahun 1600-an jam portabel yang awalnya hanya digunakan sebagai penunjuk waktu berkembang menjadi perhiasan. Ketika itu, jam portabel terbuat dari uang logam, logam berharga, ataupun bahan perhiasan lainnya. Dengan demikian jam portabel pun dipandang sebagai bagian dari perhiasan.

Tahun 1700 hingga 1800 merupakan masa dimana jam portable yang di simpan di saku bermigrasi menjadi arloji yang bisa digunakan dipergelangan tangan. Hal ini tentu memudahkan bagi para pengguna penunjuk waktu itu. Meskipun pada awalnya sulit untuk menyesuaikan desain arloji dengan anatomi tangan serta pengaruh kegiatan tangan dengan sistem keakuratan waktu namun seiring perkembangan semua mampu teratasi.

Hingga akhirnya pada tahun 1900 dan seterusnya jam tangan semakin berkembang mulai dari material hingga sistem di dalamnya. Angka-angka dan jarum penunjuknya di tampilkan mengkilat, material yang digunakan adalah logam mahal, anti air, anti karat, hingga penampilannya yang sangat elegan. Tentu saja tidak sedikit arloji itu harus ditebus dengan harga yang cukup mahal.

Jam Tangan itu Penting
Saya termasuk orang yang menderita ‘nomophobia’ atau orang yang merasa tidak nyaman jauh dari hp, dan setiap handphone tentu saja telah menyediakan penunjuk waktu, bukankah hal itu berarti saya tidak memerlukan jam tangan lagi untuk mengetahui waktu? Bukankah saya bisa melihatnya melalui layar hpku yang selalu menemani? Tetapi rupanya tidak begitu.

Beberapa orang biasanya menghadiahkan jam tangan untuk keluarga, teman, atau koleganya. Alasannya pun macam-macam, agar ia lebih tepat waktu, agar dia menghargai waktu, atau sebagai penghargaan karena ia selalu tepat waktu. Waktu dan jam tangan seolah menjadi pasangan yang tidak terpisahkan. Tetapi bukan alasan itu sehingga saya menggunakan jam tangan. Bahkan sejujurnya, sejak saya membiasakan diri menggunakan jam tangan saya justru sangat jarang melihat waktu dari situ. Saya masih melihat waktu dari layar hp milikku.

Selain itu, tak sedikit yang menghadiahkan jam tangan sebagai perhiasan dan berharap yang diberi lebih elegen ketika memakainya. Dan sekali lagi, bukan karena alasan ini saya memakai jam tangan.

Hmm… Saya harus akui bahwa kadang-kadang saya terserang grogisme dan kakuisme ketika harus berhadapan dengan orang lain dan atas saran uNieQ saya pun menggunakan jam tangan sebagai penawar gejala itu. Dan sejak itulah saya berteman dengan jam tangan . Yah… sejauh ini benda itu memang cukup membantu. Ketika saya tidak tau harus ngomong apa, saya bisa berpura-pura melihat jam tangan. Ketika salah tingkah saya bisa melampiaskan sambil melihat jam tangan. Melarikan gejala ‘aneh’ dengan melihat jam tangan setidaknya tidak membuat kita terlihat betul-betul ‘grogi’ ataupun ‘kaku’.

Dan hari ini, saya hampir saja melupakan ‘jimat’ itu. Padahal saya akan bertemu dengan seseorang yang punya potensi membuat saya ‘grogi’ atau pertemuan kami bisa membuat suasana menjadi ‘kaku’. Beruntung saya mengingatnya, saya pun kembali kerumah mengambil benda itu kemudian meninggalkan rumah dengan mengenakan sebuah jam tangan di pergelangan tangan kiriku.

sumber gambar dari sini